Kenapa yah manusia gak pernah puas?

Walau sebenarnya aku harus bangga, karena apa yang aku raih hasil jerih payah sendiri, bukan minta-minta seperti cewe2 cengeng dan manja yg hidup di muka bumi ini.

Aku gak memungkiri dulunya aku cuma cewe manja yang berharap segala sesuatunya dipenuhi orang tua, yang gak perduli orang tua susah atau nggak aku harus tetep dapet yang aku inginin. Yang aku tau adalah “Orang Tuaku Kaya, Aku Bisa Dapat Apa Saja”.

Tapi beriringnya waktu, dan perjalanan hidup yang ternyata benar2 gak bisa di duga, aku sampai kepada titik ini, titik dimana aku harus memperjuangkan segalanya sendiri.

Waktu dulu, aku gak harus memikirkan makan, karena setiap waktu aku dapat makan semua jenis makanan yang aku inginkan, dan justrunya aku jadi sering lupa makan.

Namun, pernah suatu ketika saat aku berusaha hdp mandiri, aku pernah sampai tidak makan seharian, dan alternatifnya aku hanya makan bubur+masako selama 3 hari berturut-turut.

Minta uang kepada orang tua aku malu, maka aku harus memutar otak, apalagi di waktu itu belum ada pekerjaan.

Akupun belajar sesuatu yang sangat amat aku benci yaitu : Hutang!

Hahahah, aku mulai belajar berhutang di kedai bibi “Batak”, dan janjinya tentunya bayar di awal bulan.

Terus terang si bibi amat sangat membantu, namun tetap sja makan ku tidak teratur, karena terus terang ak bukan wanita yang pandai memasak, alhasil sering kali walaupun telah memasak terkadang sia2 karena tidak di makan.

Hayohh,,, putar otak lagi key,, putar!
Read the rest of this entry »

Alkisah si Bocah Kampung

Sani SembiringDia dulunya adalah hanya seorang bocah kampung.

Kampungnya ini sendiri terletak di Sumatera Utara bernama Desa Perbulan yang apabila ditempuh melalui jalan darat/mobil akan memakan waktu 6-8 jam lamanya dari kota Medan.

Untuk melalui perjalanan ini pun agak sedikit menegangkan, kita harus melewati jurang, dimana sering sekali terjadi longsor. Karena Desanya ini terletak di lembah, jadi kita harus naik turun gunung baru sampai ke desa ini. Sungguh bukan perjalanan yang mudah untuk ke Desa Perbulan.

Mari kita alihkan pembicaraan kita ke kurang lebih 50 tahun yg lalu lamanya :D

Bersama Nenek dan kedua Adiknya

Bocah kampung ini bernama A. Sani sembiring. Dia sebenernya sama seperti bocah kampung lainnya.
Namun yang membuatnya berbeda adalah apabila pada waktu itu ia sekeluarga tetap bersekolah.
padahal untuk ukuran orang Kampung, banyak yang menilai sekolah itu belumlah terlalu penting (jangankan di desa, dikota saja pada waktu itu tidak penting).

Namun bukan mudah juga untuk sekolah dimasa itu. Mengingat masih banyak penjajah berkeliaran (walaupun tidak begitu banyak penjajah yang samapai kesana pada tahun itu).

Alkisah dahulunya beliau disekolahkan di sekolah yang mirip seperti pesantren. Namun ntah bagaimana, akhirnya ia pun di ungsikan ke sekolah Belanda. Namun tetap syukurnya yang mengajar masih banyak orang Indonesia.

Seperti anak kampung lainnya, waktu senggangnya diisi dengan pergi memancing di sungai, bermain di sawah bersama adik dan memainkan kerbau, memanjat pohon kelapa, dan menembak burung.

Read the rest of this entry »