Good Bye Oma.

Itulah yang hanya bisa kusampaikan kepada oma.

Gambar diatas adalah ketika mertuaku terpaksa melepas ibundanya tercinta ke lautan lepas, tenang dan damai.

Rasa haru tentu saja.

Oma saya adalah seorang Kristiani. Tetapi ia terpaksa harus di Kremasi, itu disebabkan oleh sekarang ini, lahan untuk Pemakaman di Bali sudah tidak ada lagi.

No, no, bukan lahannya habis, tetapi karena memang Pemerintahan Bali tidak memberikan ijin lagi untuk membuka area pemakaman.

Kenapa? Yah tanya kenapa, namun apapun itu , dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung.

Kita harus menghargai apa yang sudah menjadi keputusan Pemerintah sana. Karena pasti mereka mempunyai alasan yang logik dan masuk akal, juga sangat berguna dengan kepentingan orang banyak.

Baiklah, selanjutnya, saya ingin menanyakan kepada kalian, apakah kalian ingin tahu prosesi kremasi sebenarnya?

Gambar berikut sebenarnya biasa saja, tapi tetap saya ingatkan buat yg kurang kuat mental, lebih baik tidak usah melanjutkan lihat.

Baiklah, pertama-tama saya akan memberitahukan bagaimana bentuk dari alat kremasi.

Nah disamping ini adalah bentuk dari alat kremasi. Lihat itu masih berasap?
Tentu saja, karena oma baru saja di kremasi disana.
Pada saat di kremasi, yang dimasukan kedalam oven tersebut bukan hanya tubuh saja, tetapi “peti” juga ikut masuk kedalam. Maka peti nya tersebut pun ikut terbakar dan luruh menjadi debu.

Nah jadi debu ini kemudian di masukkan kedalam kotak, dimana nantinya debu yang ini akan di taburkan di lautan/sungai/apapun itu tergantung yang diinginkan oleh keluarga.

Kemudian, ada suatu prosesi dimana, tulang dari jenazah tersebut, akan di agkat satu persatu oleh keluarga yang bersangkutan.

Tulang ini alaha tulang yang tidak luruh pada saat prosesi pembakaran.

Seperti gambar disamping ini, dimana suami saya sedang melakukan prosesi tersebut, ia sedang mengangkat tulang dari omanya.

Mungkin anda satu yg pertanyaan yang tersimpang di benak anda, bagaimana “bau” dari tempat itu, apakah baunya akan terasa seperti daging bakar?
Tidak, yang ada hanya bau kayu terbakar.

Nah yang terakhir apabila kalian penasaran, kemudian apa yang terjadi dengan tulang-belulang tersebut.

Maka gambar disamping ini jawabannya.
Ya benar, tulang belulang tersebut kemudian dimasukan kedalam alat penggiling, dimana tulang belulang tersebut nantunya kan lebur menjadi debu. Yang kemudian debu tersebut akan dimasukan ke dalam kendi.

Debu tulang belulang in yang umumnya dibawa oleh keluarga, sedangkan debu yang terbakar di tempat pembakaran tersebut, nantinya akan di taburkan ke dalam lautan.

Prosesi terakhir adalah, menaburkan debu yang terbakar saat di prosesi pembakaran dengan peti mati tsb.
Sementara debu tulang-belulang akan diserahkan ke keluarga, terserah apakah keluarga ingin menyimpannya disana, seperti sebuah loker, atau ingin membawanya.

Pada saat itu keluarga setuju untuk membawanya kembali ke Menado, agar debunya tersebut dapat dikuburkan bersama dengan orang tua dari oma.

Ya, itulah beberapa prosesi yang dilakukan.

Sekedar perenungan saja, apapun itu, nantinya manusia pasti akan mati.
Dan nantinya manusia kembali menyatu dengan alam, melalui prosesi apapun itu.

Semoga oma diterima disinya.