Mmmhh hanya berkilas balik kepada beberapa bulan yg lalu saat saya mengunjungi kota Semarang.

Saat itu saya sedang mengunjungi kakak ipar dan juga tante saya.
Saya mnyempatkan singgah utk membeli oleh2 (apalagi kalau bukan bandeng presto! nyummyy :) )

Nah pada saat itu sebenernya saya juga sedang menunggu rombongan sepupu2 saya yang telat dateng (dari bdg – semarang). Akhirnya karena jemu menunggu ntah dari mana kepikiran untuk mengunjungi lawang sewu.

Tentu saja, bukan soal sejarah sebenernya (walaupun penasaran juga asal usul lawang sewu), tapi inti dari berjalan kesana saya pengen tau, beneran gak sih, kisah2 misteri yg saya dengar?
Yah tau dong, ttg hantu-hantu yang berkeliaran itu?

Akhirnya ya sudah kita BP (bocah petualang), tepat jam 7 lgsg kesana.
Suasana masih kosong, masih rada2 ragu juga, soalnya memang dari luar tampak begitu menyeramkan, dan gelap. Ya udah kepikiran lg, ah nunggu 1 jam-an lg deh, mana tau sepupu2 dah dateng, jadi masuknya barengan.

Selagi menunggu kita ngomong2 sama gaet/pawang sana. Dia meyakinkan kami, kalau semua baik2 aja selama ada dia. Dia bilang gak usah takut, berpikiran positif saja, dan utamakan sejarahnya. Dia juga bilang, klo semakin malam, disini semakin rame jadi gak usah khawatir, apalagi kalau malam jumat (kebeneran kami pada saat itu malam kamis).

Bener aja, 1 jam berlalu yang datang kesana semakin byk. Yg tadinya hanya kami saja, tepat jam 8, ada 7 rombongan motor, dan 3 rombongan mobil. Suasana menjadi agak sedikit riuh.

Karena bosan menunggu, dan nyali juga udah besar, kita beraniin masuk.

Sampailah kita pada pintu depan.
Sungguh menyeramkan, suasana gelap. Mata harus menyesuaikan dengan remang2, untungnya kami di bantu oleh cahaya senter. Sang pawang mulai beraksi, ia menyorot dinding yg banyak tercantum nama dan photo, ia pun mulai menyeritakan siapakah nama gerangan2 diatas. Sang pawang pandai membawa suasana, sehingga rasa takut mulai hilang berganti menjadi rasa penasaran. Kita akhirnya malah mengintrogasi si pawang, karena merasa seru.

Sampai kami akhirnya ke lantai dua kami pun sempat berfoto ria, indah terlihat dari atas, di teras kantor belanda, langsung terlihat pemandangan luar.

Lawang sewu 2008

Namun perasaan seru kami hilang saat memasuki lantai 3. Tepatnya di ruang penyiksaan Jepang (dulunya itu dijadikan gudang oleh Belanda, namun saat peralihan oleh pemerintahan jepang dijadikan ruang penyiksaan).
Bau nya sangat menusuk, dan sungguh gelap. Bukan hanya itu, ada perasaan lain di ruang itu, saya khususnya merasa di perhatikan oleh seseorang atau lebih tepatnya oleh mahluk lain. Segera saya meminta agar segera turun saja ke bawah.

Sampai bawah, kami memasuki wilayah terakhir, gedung penyiksaan bawah tanah. Saya dengar dulunya ini adalah tempat paling angker. Hati saya pun jadi gak enak. Namun ternyata begitu sampai bawah, berbeda dengan yg saya pikirkan. Ternyata tempat itu sudah di kelola oleh pemerintahan, tempatnya jadi rada bersih, dan rada rame. Pada saat menuju ruang sana, ada beberapa mahasiswa bermain gitar, cukup mencairkan suasana.

Sampai pada pintu bawah tanah, kita berganti pawang (yg ini khusus pawang bawah tanah). Kita disuruh membayar Rp 8000 utk menyewa sepatu boot, karena di bawah memang tergenang air sampai betis.

Dibawah memang ternyata cukup menyeramkan, bukan hanya pemandangannya tetapi cerita dibalik itu yg bikin berdelik dan mendendam.

Dibawah itu saya melihat berbagai tempat penyiksaan dan penjara.

1. Penjara berdiri : tahanan (yang pastinya orang indonesia) dimasukan kedalam ruangan kurang lebihberukuran lebar 1×1 meter sebanyak 6 orang. Mereka lalu di beri air selutut kemudian di kurung berdiri. Dengan ukuran sesempit itu maka tidak mungkin jongkok, seandainya jongkok pun mereka akan terlelap air. Mereka akan dikurung sampai meninggal.

2. Penjara jongkok : tahanan harus duduk jongkok di ruangan kurang lebih selebar 1,5 m dan setinggi 1 m sebanyak 7- 8 orang dan juga dikurung sampai meninggal.

3. Tempat pemasungan kepala : tahanan yg membandel, akan dilakukan pemasungan kepala, didalam sebuah bak. Saat itu saya masih melihat alat pasungnya yg sudah berkarat. Setelah di pasung kemudian badan dan kepala secara diam2 di tenggelamkan ke sungai dengan jalan bawah tanah.

4. Perantai Badan : Tempat merantai badan, kemudian mereka disiksa, baik di cambuk disundut rokok, atau cara2 menyedihkan lainnya.

Masih banyak lagi ruangan2 yang lain, namun itu yg ruangan plg berkesan bagi saya.

Dulunya tempat itu merupakan tempat penampungan air oleh tentara Belanda.
Namun tentara Jepang menjadikannya tempat penyiksaan.
Yang baru diketahui setelah Pemerintahan Jepang angkat kaki dari Indonesia yaitu sekitar tahun 1945 .

Nah, akhirnya saya menyelesaikan perjalanan yg cukup melelahkan itu fiuhhh,,,

Eitssssss tunggu dulu cerita belum berakhir!

Ternyata begitu sampai diluar, kebeneran saudara2 saya baru sampai. Akhirnya setelah setengah jam istirahat, mereka minta kembali ditemani masuk kedalam.

Ya sudah kita mau mau saja.

Namun ternyata walahhhh mereka mengandung hawa negatif heheh
maklum mereka pada cowo semua, jadi rada usil.

Benar saja, begitu sampai dalam, mereka bertingkah seperti anak2, saling mengejutkan dan bertindak konyol yang sangat tidak penting!
sampai2 si pawang memperingatkan secara halus, agar kita jangan berisik, karena sudah ada yg memperhatikan, namun mereka tampaknya tak percaya, dan malah semakin membuat hal2 konyol yg tidak penting lainnya.

Akhirnya pas naik ke lantai 3, yg tadinya mereka usil, akhirnya pada diem semua. Ternyata dilantai ini, bukan hanya saya aja yg merasa gak enak, tetapi semuanya punya perasaan sama.

Saat dilantai 3 Gudang atas, kami seperti merasa di kepung, sepertinya kami diperhatikan oleh “orang lain” bulu kuduk kami pada naik. Lagipula saat itu suasana tiba2 menjadi hangat.
Karena udah merasa super gak enak, akhirnya saya dengan nada teriak bilang “Udah Ah!” dan langsung kabur kebawah, yang lain pada ikutan ngacir, smbil bilang “woy tunggu tunggu” !

Any way, akhirnya kami sampai di bawah, ntah karena apa akhirnya sang pawang membawa kami pada suatu lorong yg tidak di tunjukkan pada aya sebelumnya.

Kami disuruh berhenti dan jongkok diam.
Ia lalu mematikan senternya, tidak berapa lama ia mengedap-ngedipkan senternya.
Lalu ia berkata ” kalian liat gak di ujung sana, liat keatas”
semua terdiam sambil melihat keujung atas.

Sepupu saya berdua udah melihat, “oh yg bayangan item itu yah pak?”
akhirnya dua yg lain melihat ” oh bayangann itu ya pak kok kayaknya mendekat?”

saya bingung sambil terus memicing-micingkan mata saya, lalu akhirnya saya dapat melihatnya saat sudah berjarak dekat sekali dari saya (kira-kira 3 meter).

Sebuah bayangan hitam berbentuk seperti manusia tergantung diatas, matanya bewarna hijau menyala, ia berjalan merangkak diatas sana berusaha mendekati kami. jalannya pelan, persis seperti bayi merangkak namun tentunya dia merangkak di atas langit-langit.

Saya tercekat, karena itu adalah pengalaman pertama saya melihat mahluk lain.
Bergegas akhirnya sang pawang menyuruh kami langsung peergi.
langsung secepat kilat kami melangkah kabur me ninggalkan ruangan.

Fiuhhh, walaupun saya tidak melihat jelas mahluk itu, tapi sudah cukup mengerikan sekali bg saya. Sampai luar kami semua saling bengong dan saling melemparkan pertanyaan. Namun ternyata ada satu spupu saya yg tidak melhat, menurut si pawang karena indranya tidak tajam.

:)
Ya begitu deh temen2 semua akhir petualangan saya di Semarang.

Seluruh cerita ini bener saya ungkapin, dan gak ada yg saya tambah2, malah mungkin saya kurangin.

Jadi intinya adalah kalau saya percaya dengan misteri lawang sewu berdasarkan pengalaman saya di Semarang.
Eits perlu diketahui. saya bukannya penggemar film hantu atau penggemar uka-uka, namun akhirnya saya percaya ada mahluk lain selain kita di luar sana semenjak petualangan saya ke lawang sewu.

Nah klo kamu gimana?