Sebenarnya kenapa yah sistem hukum kita?

Paling parah orang yang harusnya menegakkan hukum, malah menyalahi hukum itu sendiri?

Lantas? Siapa dong yang bisa menghukum para abdi hukum ini sendiri?

Giliran Kita aja pengendara gak bawa Sim, pasti langsung di tilang di bilang melanggar hukum.

Padahal noh sangat amat jelas sekali praktik planggaran hukum sendiri di Samsat Jl. Jawa Bandung.

Ceritanya,, aku nyuru adik-ku yang sim C nya hilang untuk buat lagi. Karyawan ku juga rencananya ingin aku buatkan sim A.

Sampai disana,, diceritakan sama adik ku,, suasananya itu riuhh banget,,
Baru aja sampai depan gerbang, mau numpang tanya ama tukang parkir

A = Adek
P = Tukang Parkir

—–

A = “Pak kalau mau buat sim ke mana?”
P = “Mau buat Sim ya? Sim Apa?”
A = “Sim C”
P = ” Oh udah Tembak aja ama saya,, sim C kalau seharii Rp 350.000,, kalau 3 hari Rp 300.000″ (nih tukang parkir dah gak pakai basa basi lagi)
A = ” aduh gak mau tmbak pak,, mau urus langsung”
P = “Susah kalau urus langsung lama”

akhirnya permbicaraan berhenti sampaai disitu,, lalu adekku langsung masuk aja ke gedung di dalam,,

bayangin aja ya,, baru sampai di tempat parkir,, secara terang-terangan tukang parkir udah nawarin jasa tembak sim,, kacau gak ?

ia nyari-nyari di dinding sekedar tulisan-tulisan, atau brosur-brosur bagaimana membuat sim secara resmi.

Tapi gak jelas,, dan amburadul keadaannya disana.

Lalu dia melihat ada polisi lagi tulis2 apa gitu.

Dia nanya ke polisi itu

A: “Pak kalau mau urus sim ke bagian apa ya?”
Pol: “Harus itu dulu,,, mmhh tes teori dulu” jawabnya aut-autan,, gak pedulian gitu..
A:  ” Terus kalau mau tes teori,, apa aja persyaratannya dan gimana pembayarannya”
Pol: “gak usah bayar dulu,, tes dulu,, kalau lulus baru bayar,,, tanya aja di sana,, ”

Pas ke loket,, berdesak-desakan,, eh loketnya malah tutup.

Hampir pasrah,, sama keadaan sana,, akhirnya ngeliahat lagi ada polisi lagi berdiri-diri,, di tanyain lagi ma adek ku.

A: “Pak kalau urus sim ke bagian mana ya?”
Pol : “Udah tembak aja,, kalau urus sendiri susah” << jawabnya santai,, gak malu apa dia pakai seragam polisi

A: ” kalau sim C berapa pak?”
Pol: ” sim C 350 ribu,, itu 1 hari,, kalau 3 hari 300rb” (ternyata tarifnya ama aja kaya tukang parkir)
A: ” Kalau sim A berapa pak?”
Pol: “sim A 400 ribu ,, sehari selesai”
A: ” Kalau si m A nya ini KTP kabupaten gimana pak?”
Pol: “kalau kabupaten 450 rb”
A: ” pak kita kan mau buat sim A dan sim C,, nah sim A nya ini kabupaten,, kalau 2 gitu berapa pak yng sehari?”
Pol: “yahh klo sehari jadi 800 rb”
A: “gak bisa kurang pak? 700 deh pak”
Pol: “gak bis,, emang udah segitu darisananya” << gak ngerti deh maksudnya,,, dari sana gimana? masa iya sih buat resmi semahal itu ,, hadujjjhhh

akhirnya adekku berlalu,, dia terus tanya2 yang lain,,
udah berbagai jenis profesi ditanyain ma dia,, mulai dari polisi, tukang parkir, calo beneran,, mhh semuanya pasang tarif seragam,,

ah akhirnya mau gak mau,,,
terpaksa juga buat sim Tembak!

jadi kalau dari cerita disini,,

“kejahatan bukan hanya terjadi karena niat pelaku,, tapi niat samsat yang buatin sim nya!”

haduh,,

setelah diselidiki di tempat test praktiknya,, memang hanya ada beberapa orang saja (kurang lebih 7) yang ikutan,,
dan itu saya yakin orang yang betul-betul punya prinsip kuat,, klo mereeka gak mau nembak,,

baiklah,,,

sedikit info.

Sim tembak di Bandung:

Sim C, KTP Bandung = 1 hari Rp 350.000 / 3 hari Rp 300.000
Sim A, KTP Bandung = 1 hari Rp 400.000

Sim C, KTP Kabupaten = 1 hari 400.000/ 3 hari Rp 350.000
Sim A, KTP kabupaten = 1 hari 450.000

————-

Sekian dan terima kasih.

dari masyarakat yang pengen jujur tapi gak dikasih.