Aku tuh bahagia banget rasanya. Soalnya ternyata aku masih bisa mengetahui bagaimana sih rupa kakek nenekku, bahkan sampai buyutku (ayah/ibunya kakek).

Pertama saya akan menceritakan mengenai kakek nenek saya dari Ibu. Wah sayangnya saya sama sekali gak sempat mengenal mereka berdua.

Saya cuman bisa mengagumi gaya “kota” mereka dijaman dahulu.

Liat aja gaya pakaiannya sungguh “modis” dan “parlente” hehhe

Ibuku menceritakan kalau pada saat ia berumur 18 tahun, kedua orang tuanya sudah meninggal :) yahhh so sad yahhh

Berikut photo2nya.

kakek dan nenek

Nah berikut merupakan yang paling-paling akbar hehhe.

Dia adalah photo kakek buyutku dari ayah.

Perhatikan wajahnya saat di photo, seperti menatap bingung ke arah kamera. Photo itu sendiri tercipta sekitar tahun 1920-an. Yang tercipta karena beliau naik haji, jadi setiap jemaah haji wajib mempunyai satu photo pengenal. Sayang kakek buyutku meninggal di usia yg tergolong muda sekitar 50-an

Berikut photonya.

kakek buyut

Nah kalau ini nenek buyutku ya istrinya si kakek buyut. Ia di photo saat berusia 50an. Dan ohiya dia sedang berfoto bersama cucu2nya. dan salah satunya ada ayahku loh (itu tuh yang paling besar hehehe). TUh liat itu photonya dalam rangka hari raya di tahun 1962

Menurut ayahku nenek buyut merupakan nenek yang baik banget dan sayang banget sama cucu-cucunya.

Nih photonya:

nenek buyut

———————————-

Oh iya kalau nenek ku dari Ayah masih ada sampai saat ini. Usianya dah 90 tahun loh!

Tapi nenek ku yang satu ini memang hebat bener, saat ini dia tinggal seorang diri di Kampung kami. Eitss jangan berfikiran kok kejam banget kami gak mau ngajak dia ke kota!

Sebenernya kami dah mati2an membujuk dan merayu nenek agar tinggal bersama kami, tapi dia gak mau dan ngotot utk tinggal disana.

Yah mau gimana lagi yah saya sih ngerti pasti sulit utk meninggalkan kampung halamannya tempat dimana dia menghabiskan hampir seluruh hidupnya disana. Lagi pula dia mempunyaai banyak kenangan indah pastinya dengan kakek-ku.

Tapi guys tenang aja, kami gak pernah lupa kok utk mengunjungi beliau ke kampung halaman kami, meskipun kami harus menempuh perjalanan yg cukup panjang karena harus melalui transportasi udara dan darat (nenek saya kebeneran tinggal di desa Perbulan, 6 jam dari medan menggunakan mobil, dan kami harus banyak melewati jurang2 yang mana sering banget jalannya longsor).

**Nih dia photo nenek saya saat “Ramadhan 2008″

saya dan nenek

————————————————-

Btw yang terakhir adalah kakek-ku.

Bolang&Bayang

Sayang aku gak pernah berjumpa beliau ;)

Tapi dari cerita2 ayahku, membuat aku salut pada beliau.

Ohiya ada 1 cerita yang beliau ceritakan yang buat aku tertakjub-takjub.

Jadi pada jaman dahulu, saat kakek ku hendak menunaikan ibadah haji beliau harus menempuh perjalanan selama 4 bulan, padahal ibadah hajinya sendiri hanya 2 bulan, jadi perjalanannya juga menempuh 2 bulan.

Beliau harus menaiki kerbau bersama rombongan haji lainnya untuk ke kota medan yang menghabiskan waktu 1 minggu.

Kemudian beliu melanjutkan perjalanan dengan kereta untuk ke pelabuhan, dan kemudian terakhir menuju Mekkah menggunakan kapal laut yang menghabiskan waktu 1 bulan.

Hehehhe saya paling takjub waktu mendengarkan beliau menggunakan kerbau!

Menurut ayah kakek merupakan sosok yang sangat disiplin, tapi penyayang. Sayang beliau meninggal termasuk di kategori usia yang belum terlalu tua.

Ya udah cukup sekian ajah.

Belakangan saya baru menyadari kalau asal usul merupakan bagian yang penting dalam hidup kita.

Saya mulai sekarang bertekad untuk akan selalu mengabadikan setiap photo para leluhur saya kedalam website, karena apabila teronggok di photo album saja, maka bisa usang dan rusak.

Kalau kamu gimana? Punya gak photo2 nenek sampai moyang2mu :P

hehhe gak ada salahnya mulai sekarang kita care!

karena gak ada mereka ya gak ada kita ;)