1. Cobaan.

Disaat kita dalam posisi surut, di bawah, dan benar-benar tersudut, biasanya kita langsung bilang kepada Tuhan:
“Ya Tuhan, cobaan apalagi ini? Mengapa kau beri cobaan yang begini berat pada kami?”

Sehabis itu kita lebih banyak beribadah, karena kita merasa mungkin Tuhan memberikan Cobaan ini karena kita telah banyak tidak melakukan Ibadah, tidak banyak menyumbang, dan lain sebagainya.

Kemudian, tiba-tiba kita diberikan berkah, dan keadaan kita kembali kepada posisi semula, dan kitapun bergumam:
“Ya Tuhan, terima kasih karena engkau telah mengakhiri cobaan ini, dan memberikan rezeki kepada kami”

Tapi setelah itu apa? pada umumnya apabila kita telah kembali ke posisi atas, kita akan kembali melupakan Tuhan. Kita akan kembali terjebak pada ke-duniawiaan kita.

Intinya yng mau saya bialng adalah, bahwa terkadang cobaan itu bukanlah disaat kita sedang berada di bawah saja.
Cobaan itu pun datang disaat kita benar2 di atas angin.
Kita di coba dengan kesenangan kita, kita itu di coba dengan hal duniawi.
Apakah kita masih dapat melihat kebawah saat kita diatas?
Apakah kita masih dapat melihat seseorang diatasnya kita?

Jadi harap mengerti bahwa hidup itu penuh cobaan baik kamu senang ataupun kamu susah.
Jangan mau terjebak ke-duniawian.

2. Rezeki

Rezeki adalah hal yang dinantikan oleh setiap orang.

Namun ada beberapa kriteria bagi manusia si penanti rezeki.
a. Si Manusia Pasrah
Ia memasrahkan dirinya kapan akan datang rezeki itu.
Ia percaya sekali akan kata-kata “Rezeki tidak pergi kemana”.
Menurutnya rezeki seseorang itu telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa, sehingga manusia tidak perlu mengebu-gebu mencari rezeki tersebut, karena pada saatnya setiap manusia akan medapatkan rezeki.
maka oleh sebab itu tipe manusia seperti ini, akan selalu menjalankan kehidupannya dengan biasa saja.

b. Si Manusia Pekerja Keras.
Ia selalu beranggapan bahwa rezeki itu akan terus mengalir kepada dirinya jika ia bekerja.
Ia bukanlah orang yang beranggapan bahwa rezeki akan datang gratis, karena ia selalu percaya akan sebab-akibat.
Bila kamu bekerja, maka kamu akan berpendapatan (di beri rezeki lebih)
Sementara menurut ia besar atau tidak rezeki adalah masalah waktu, kesabaran, dan kerja keras.

c. Si Manusia Serakah
Ia memiliki kepribadian ganda, Ia percaya akan rezeki, namun ia juga tidak percaya akan rezeki. Bagaimana bisa begiut?
Ia hampir mirip dengan si manusia pekerja keras yaitu bekerja untuk mendapatkan penghasilan.
Tapi tipe manusia ini adalah tipe yang tak sungkan untuk mengorbankan manusia lainnya untuk mendapatkan keinginannya.
Biasanya tipe manusia ini menghalalkan segala cara untuk mendapatkan penghasilan, Jerat kiri dan kanan sudah biasa dan bukanlah suatu hal yang tabu atau dosa dimatanya (biasanya ia akan berdalih bahwa ini strategi bisnis, semua orang akan melakukannya). Bagi ia penghasilan adalah hasil jerih upaya dia.
Namun disaat ia mendapatkan sesuatu hal yang sangat besar, tak segan ia berkata bahwa itu adalah rezeki (walaupun ia sendiri tau cara mendapatkan hal itu dengan tidak baik)

-

Yah Seperti itulah..

Manusia yang mana kita?