Sani SembiringDia dulunya adalah hanya seorang bocah kampung.

Kampungnya ini sendiri terletak di Sumatera Utara bernama Desa Perbulan yang apabila ditempuh melalui jalan darat/mobil akan memakan waktu 6-8 jam lamanya dari kota Medan.

Untuk melalui perjalanan ini pun agak sedikit menegangkan, kita harus melewati jurang, dimana sering sekali terjadi longsor. Karena Desanya ini terletak di lembah, jadi kita harus naik turun gunung baru sampai ke desa ini. Sungguh bukan perjalanan yang mudah untuk ke Desa Perbulan.

Mari kita alihkan pembicaraan kita ke kurang lebih 50 tahun yg lalu lamanya :D

Bersama Nenek dan kedua Adiknya

Bocah kampung ini bernama A. Sani sembiring. Dia sebenernya sama seperti bocah kampung lainnya.
Namun yang membuatnya berbeda adalah apabila pada waktu itu ia sekeluarga tetap bersekolah.
padahal untuk ukuran orang Kampung, banyak yang menilai sekolah itu belumlah terlalu penting (jangankan di desa, dikota saja pada waktu itu tidak penting).

Namun bukan mudah juga untuk sekolah dimasa itu. Mengingat masih banyak penjajah berkeliaran (walaupun tidak begitu banyak penjajah yang samapai kesana pada tahun itu).

Alkisah dahulunya beliau disekolahkan di sekolah yang mirip seperti pesantren. Namun ntah bagaimana, akhirnya ia pun di ungsikan ke sekolah Belanda. Namun tetap syukurnya yang mengajar masih banyak orang Indonesia.

Seperti anak kampung lainnya, waktu senggangnya diisi dengan pergi memancing di sungai, bermain di sawah bersama adik dan memainkan kerbau, memanjat pohon kelapa, dan menembak burung.

Pada jaman dahulu “Alas kaki” merupakan barang mewah yang langka disana. hinggalah ia kemana-mana berkaki ayam alias telanjang kaki.

Karena memang telah didik disiplin, akhinrya beliau sampailah kepada masa akhir sekolahnya d SMU.

Ia berkeinginan kuat untuk melajutkan pendidikannya sampai ke bangku Kuliah.
Namun ternyata niatnya ini sebenarnya kurang begitu di setujui oleh keluarganya.
Begitu banyak pertentangan. Orang tuanya menganggap bahwa Hidup di desa Toh Juga Tidak Kekurangan, apalagi keluarganya bukanlah orang yang tidak mampu di desa, keluarga beliau merupakan orang yang terpandang di desa.

Namun ternyata beliau mempunyai keinginan dan keyakinan bahwa kelak ia akan menjadi orang yang sukses di di IbuKota.

Dengan bekal seadanya, ia pun pergi ke kota Medan, tanpa membawa restu orang tua.

Singkat Cerita, ternyata setelah beberapa lama di Kota Medan, dengan bergbagai cara dia akhirnya menempuh perjalanan ke Ibukota. Tujuannya apalagi kalau bukan Perguruan Tinggi Negeri yang konon irit biaya karena pada waktu itu disubsidi penuh oleh Pemrintah alias gratis tis :).

Setelah mendaftar perguruan tinggi disana-sini, ternyata-oh ternyata nasibnya belum beruntung. Dimana-mana ia belum diterima. Namun memang dasar beliau pantang menyerah, bukannya kembali ke Kampung Halaman, beliau malah tetap ngotot untuk tinggal di P.Jawa (dimungkinkan juga karena takut malu :D pulang dengan tangan hampa ).
Dengan keadaan terlunta-lunta, akhirnya beliau pun menerima pekerjaan sebgai kenek di salah satu Bus Antar Kota Jakarta – Yogya/Jakarta-Solo dan lainnya.

Beliau merupakan anak yang sangat rajin dan telaten, sehingga sang sopir senang kepadanya. Suatu hari disaat sedang membersihkan dan menyapu bus, ia menemukan koran bekas. Di koran bekas tersebut ternyata ada iklan dimana memberitakan Penerimaan Calon Mahasiawa CURUG, yaitu sekolah penerbangan negeri Indonesia.

Membaca berita ini, dengan semangat yang berkobar-kobar iapun segera mengikuti pendaftaran.

Hingga dimana pada Hari H akhirnya beliau pun mengikuti ujiannya.

Namun sayang, dikarenakan kurang persiapan dewi fortuna lagi-lagi belum berpihak kepadanya alias ia GATOT (Gagal Total).

Kegagalan ini bukannya membuatnya rendah hati ataupun lelah, malah menjadi pemecut semangatnya.

Ia merasa yakin bahwa sebnearnya ia nyaris saja keterima pabila ia melakukan persiapan yang matang.

Maka mulai hari itu ia pun melakukan persiapan. Dan sang sopir temannya tersebut pun yakin bahwa beliau sebnarnya anak yang pintar dan pasti mampu menaklukan ujian tersebut. Hingga akhirnya beliau memberikan sedikit bantuan (ntah dalam bentuk apa).

Singkat cerita, sampailah pada test berikutnya.
Beliaupun akhirnya mengikuti test tersebut.
Dan ternyata seperti dugaan, ia lolos menjadi salah satu calon penerbang Indonesia .

Setelah beberapa lama menjadi siswa di CURUG akhirnya tibalah saat yang mendebarkan yaitu kelulusan. Dan ternyata ia lulus dengan hasil yang sangat baik.

Kebanggaan yang dirasakan beliau bukan main.
Apalagi beliau termasuk kedalam Orang ke-3 yang bertitel Pilot di Medan.
Tentu saja namanya di Kampung pun menjadi Harum kembali setelah sempat di Cap anak keras kepala.

Selama berprofesi menjadi Pilot ia banyak wara wiri baik di Indonesia maupun Luar Negeri, hingga ia berakhir di salah satu Pilot perusahaan cargo Indonesia. Disana ia berkarir cukup lama, dan pernah diangkat menjadi manager operasional.

Beliau termasuk pensiun muda, yatu umur 45 tahun ia pensiun dari dunia penerbangan, walaupun sebenarnya ijin mengemudi pesawat masih sampai dengan umur 50 tahun.

Disaat ia pensiun, berbekal pengalaman nya dalam menjadi pilot perusahaan cargo, ia membuka usaha cargo kecil-kecilan pengiriman Barang Medan – Jakrta -Batam.

Walaupun jatuh bangun akhirnya perushaan ini berkembang cukup pesat, yang pada awalnya perusahaan ini berdomisili di Medan pada akhirnya Pusatnya berpindah ke Batam.

Satu yang tak pernah hilang dari beliau adalah “Hasrat adn semangat Kampungnya”. Walaupun berat segala rintangan ia jalani.
Ia termasuk kedalam golongan “Talk Little, Action First”.
Beliau juga merupakan sosok yang sangat amat Ramah dan Baik, jarang ngomong, dan berwibawa, namun tetap tegas.

Karena kegigihannya akhirnya sekarang ini beliau sudah mempunya perusahaan Cargo (pengiriman Barang) yg reguler mengirim Barang dr Batam (Indonesia) – Singapore bahkan Batam (Indonesia) – Worlwide.

Sekarang ini pun ia mempunyai saham di perusahaan Singapore yang juga bergerak di bidang Cargo.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai Petani Buah Naga, karena ia memiliki kebun buah Naga yang cukup Luas. Awalnya ia hanya menanam beberapa pohon saja, namun begitu ia melihat bahwa tanaman ini sangat cocok tumbuh di Batam, maka iapun bercita-cita untuk membuat trade mark Batam sebgai Kota dengan oleh-oleh khasnya Buah Naga. Dan sepertinya Hal Itu hampir berhasil sekarang.
Ia juga ingin merintis suatu usaha yang berhubungan dengan petani dan nelayan Batam khusunya (masih bellum di beritahukan apa). Ia ingin merintis usaha ini dengan alasan mengingat masa lalunya, dan juga ingin membantu orang tentunya.

Walaupun mungkin beliau tidak termasuk orang yang tersukses atau terkaya raya di Indonesia atau Batam , namun merupakan kebanggan yang luar biasa melihat sosok beliau.
Dari bocah kampung mejadi kenek hingga menjadi pilot dan akhirnya menjadi pengusaha.
Dan yang paling saya kagumi adalah semangatnya dan kejujurannya dalam menjalani hidup.

Beliau memang hebat.

Diatas hanya merupakan sebagain kecil saja yang saya tau tentang beliau,
Sebenarnya hidupnya lebih berliku.
Namun walaupun ia menceritakan sedikit dan susahnya mendapatkan cerita tentang masa dulunya ia tetap membuatku kagum.

Semoga Kisah Ini Menginspirasi Kita Semua.

—————————————————–

Sepenggal surat kagum kepada Ayah,

Ayah, terima kasih telah menjadi sosok yang begitu sempurna bagi kami keluargamu.
Tersirat bahwa Hidupmu adalah keluargamu.
Jatuh bangunmu untuk keluargamu.

Ayah, setiap hariku ku berterima Kasih kepada Tuhan.
Tuhan terima kasih karena aku memiliki ayah yang sangat sempurna.
Tuhan terima kasih karena ia begitu bertanggung jawab dan mencintai keluarganya.

Ayah, aku mencintaimu.
Kau adalah Inpirasiku.
Inginnya aku Sempurna sepertimu

Ayah sulit bagiku untuk sepertimu.
Namun kucoba untuk tidak mengecewakanmu.
Kuberusaha untuk Kuat sepertimu.

Terima Kasih Ayah.
Terima Kasih Tuhan.
Terima Kasih.